Pengaplikasian Teknologi BroadBand Over Powerlines
Oleh : Andi Nikma Sri Handayani
1.1. Latar Belakang
Komunikasi data merupakan
proses pengiriman informasi di antara dua titik menggunakan kode biner melewati
saluran transmisi dan peralatan switching, bisa antara komputer dan
komputer, komputer dengan terminal, atau komputer dengan peralatan, atau
peralatan dengan peralatan. Perkembangan teknologi jaringan komputer saat ini memungkinkan
pengiriman data tidak hanya menggunakan kabel ethernet (UTP) maupun
media nirkabel (wireless) sebagai media transmisinya, melainkan sebuah
kabel listrik yang fungsi utamanya untuk menyalurkan tegangan listrik ke
berbagai rumah sebagai sarana menghidupkan peralatan elektronik, namun dapat
dialih fungsikan sebagai media transmisi untuk komunikasi data dalam jaringan
komputer dengan memanfaatkan saluran tegangan listrik yang ada pada kabel
listrik.
PT.PLN (Persero) sebagai
perusahaan penyedia layanan listrik dapat menawarkan suatu inovasi baru dimana
tidak hanya menawarkan listrik bagi pelanggan tetapi juga menjadi penyediaan layanan komunikasi data. Di era ini
hal tersebut tidak lagi menjadi hal yang mustahil. Dengan penerapan teknologi
Power Line Connection (PLC) memungkinkan pengiriman data dengan menggunakan
kabel listrik sebagai media pengantar komunikasi. Dengan memanfaatkan saluran tegangan listrik maka
pengiriman data dapat dilakukan tanpa membangun instalasi jaringan lagi dan
dapat menekan biaya menjadi lebih murah. Jika pengimpelementasian teknologi PLC
dilakukan hal yang sangat perlu diperhatikan adalah kecepatan dalam proses
pengiriman dan penerimaan data dengan jangkauan frekuesi yang luas dalam hal
jaringan komputer dan koneksi internet.
Pengertian Broadband dalam
arti harfiah sendiri dapat definisikan sebagai jangkauan frekuensi yang luas
dan digunakan untuk melakukan proses pengiriman dan menerima data. Istilah broadband
mengacu pada koneksi bandwidth internet. Istilah
bandwidth umumnya digunakan untuk merujuk pada kecepatan
transfer data, dalam hal jaringan komputer dan koneksi internet.
Karena pentingnya internet, maka pemerintah memasukan agenda pembangunan
jaringan broadband diIndonesia pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun
2014-2019.
Teknologi broadband internet
melalui jaringan telepon menawarkan data rate yang tinggi, hanya saja pada
keadaan normal, cakupan daerah maksimal mencapai 5,5 km dengan catatan masih
ada daerah yang belum bisa dijangkau. Salah
satu teknologi yang menjanjikan yaitu teknologi Broadband over poweline (BPL)
dimana teknologi ini menawarkan akses broadband dengan melalui jaringan listrik
dimana selain menawarkan laju data tingi dengan jangkauan yang lebih luas
dibandingkan dengan teknologi DSL pada telepon, ditambah dengan tersedianya
kabel listrik dimana-mana sebagai media pengiriman jaringan internet. Lantas
bagaimanakan pengimplementasian dan penerapan teknologi ini? Hal tersebut akan
dibahas pada paper ini .
1.1. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan paper
adalah memberikan penjelasan tentang jaringan komunikasi data Broad band dan
penerapannya dalam teknologi Power Line Communication (PLC) serta bagaimana pengimplementasiaannya
dalam kehidupan sehari-hari.
1.2. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari pembuatan paper ini adalah objek yang dijadikan sebagai bahan pembahasan adalah
broadband yang mana lebih menitikberatkan pada penggunaannya didalam teknologi
Power Line Communication.
2.1. What is Broad Band ?
2.1.1.
Definition of Broad Band
Definition
of Broad band according to several sources :
a. According to Wikipedia, Broad
band adalah merupakan suatu istilah didalam internet yang merupakan koneksi
internet transmisi data berkecepatan tinggi. Terdapat 2 jenis Broad band yang
umum, yakni Digital Subsciber Line (DSL) dan kabel modem yang mampu mentransfer
512 kbsp atau lebih ( 9 kali lebih cepat dari modem yang menggunakan kabel
telepon standar )
b. According to recomendation of ITU
No. I.113, Communication broad band is communication with transmition speed is
1,5 Mbps until 2,0 Mbps.
c. According to the FCC in America,
Broadband communication is a communication
that has a speed of symmetry ( up-stream and down-stream) minumum 200
kbps
Pengertian Broadband dalam
arti harfiah sendiri dapat definisikan sebagai jangkauan frekuensi yang luas
dan digunakan untuk melakukan proses pengiriman dan menerima data. Istilah broadband
mengacu pada koneksi bandwidth internet. Istilah
bandwidth umumnya digunakan untuk merujuk pada kecepatan
transfer data, dalam hal jaringan komputer dan koneksi internet.
2.1.2.
Technology of Broad Band
a. Digital Subscirbe
Line (DSL) merupakan kumpulan teknologi yang
memanfaatkan bandwidth yang tidak digunakan telepon tembaga biasa untuk
menghantarkan data digital berkecepatan tinggi. DSL biasanya menggunakan sinyal
frekuensi dengan range cukup tinggi, yaitu 1 MHz. Pada keadaan normal,
teknologi DSL memiliki cakupan area coverage maksimal sebesar 5,5 km.
b.
Cable Technology,
memanfaatkan infrastuktur kabel tv untuk melewatkan data (beberapa negara juga
melewatkan sinyal telepon). Teknologi cable sendiri memungkinkan pengguna
melakukan koneksi VPN dengan kecepatan tinggi dan harga yang sesuai. Dalam pemasangan cable jarak jauh, digunakan amplifier atau penguat sinyal untuk tetap menjaga keutuhan
sinyal selama di perjalanan. Amplifier akan dipasang pada bentangan kabel
coaxial kurang lebih setiap jarak 610 meter. Sinyal yang dikuatkan adalah
sinyal frekuensi 50 sampai 860 MHz. Namun saat ini arsitektur jaringan Cable tidak lagi dibuat menggunakan murni
media Coaxial, namun dibuat juga menggunakan bentangan media fiber optik. Media fiber optik digunakan dengan tujuan
untuk akan meniadakan amplifier sinyal, membawa siyal dengan lebih bersih,
kecepatan transfer yang lebih tinggi dan dengan jarak yang lebih jauh
dibandingkan kabel coaxial biasa. Media fiber optik bertugas sebagai backbone link.
c.
Wireless Broadband, Sistem
broadband ini kepada teknologi nirkabel dengan kecepatan proses download yang
disediakan adalah jenis akses teknologi yang berkisar antara 128 kbps – 2Mbps. Teknologi ini menjadi sangat
berkembang karena banyaknya perangkat nirkabel seperti ponsel dan laptop.
d.
Satelit Broadband, Satelit
geostasioner menyediakan akses internet yang menggunakan parabola dan perangkat
keras pendukung lainnya untuk menerima sinyal. Kecepatan yang ditawarkan oleh
koneksi ini adalah sekitar 2 Mbps untuk dowload dan 1 Mbps untuk upload. Jenis
Broadband ini merupakan jalan keluar untuk wilayah dengan keterbatasan
jangkauan secara geografis. Namun, untuk koneksi broad band satelit ini
dipengaruhi oleh faktor cuaca.
2.1.3. Kelebihan dan Kekurangan
Broad Band
- Kelebihan Broadband :
a. Broadband tidak seperti dial-up yang tidak
menuntut untuk berlangganan.
b. Dengan Broadband,
memungkinkan untuk melakukan panggilan suara ketika sedang melakukan surfing di
internet dikarenakan penggunaan frekuensi yang berbeda
c.
Bandwith yang lebih besar membuat konektifitas lebih stabil
d.
Kecepatan download yang tergolong cepat jika dibandingkan dengan Dial-Up
sehingga dapat di share ke beberapa computer di rumah, baik dengan LAN maupun
dapat membuat access point (wi-fi)
- Kekurangan Broadband yakni
a. kecepatan koneksi bergantung kepada banyak pengguna
b. Semakin jauh jarak
antar penerima dengan router maka sinyal yang diterima akan semakin lemah
c. Kerusakan pada backbone atau jalur utama jaringan, akan
membuat jaringan DSL menjadi terganggu.
2.2. Implementation of Broad band in Indonesia
Broadband
dalam Rencana Pita lebar Indonesia 2014-2019 didefinisikan sebagai akses internet
dengan jaminan konektivitas selalu tersambung, terjamin ketahanan dan keamanan
informasinya serta memiliki kemampuan triple-play dengan kecepatan minimal 2
Mbps untuk akses tetap (fixed) dan 1 Mbps untuk akses bergerak (mobile). Pengimplementasian Broad band di Indonesia telah masuk
dalam agenda Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) untuk tahun
kerja 2014-2019. Berdasarkan agenda
rapat RPJMN Broadband memungkinkan pengaksesan, petukaran dan kolaborasi riset
secara lebih cepat dimana berdasarkan sumber daya manusia untuk bagian daya
saing ekonomi, penggunaan Broad band dapat memperluas dan meningkatkan kualitas
layanan pendidikan dan kesehatan.
Sebagai
langkah awal dari pengimplementasian Broad band, pemerintah berkolaborasi
dengan dunia usaha untuk menyusun Indonesia Broadband Plant (IBP). IBP
bertujuan untuk memberikan arahan dan panduan bagi percepatan perluasan
pembangunan broadband nasional yang komprehensif dan terintegrasi dengan
menggunakan sumber daya secara efesien. Kebijakan utama pembangunan Broadband
nasional dibagi menjadi empat aspek :
a.
Infrastructure, Percepatan
pembangunan dan pemerataan infrastucture broadband untuk memastikan
ketersediaan, aksesibillty, dan jangkauan layanan dengan berorientasi locally
integrated, globally connected
b.
Pemanfaatan, Perluasan
adopsi dan peningkatan kualitas utilisasi broadband baik di sektor
pemerintahan, ekonomi, pertahanan dan keamanan, maupun budaya
c.
Kerangka
regulasi, Regulasi (Sektor dan lintas sektor) yang memfasilitasi
pengembangan pasar dan menekan regulatory cost sehingga memungkinkan dunia
usaha untuk menjadi aktor utama dalam pengembangan broadband nasional
d.
Pendanaan, Pendanaan
pemerintah digunakan untuk akselarasi, fungsi fill in the gap, dan debottlenecking
pembangunan broadband tanpa mengambil alih peran atau berkompetisi dalam
penyelenggaraan.
|
2013
|
2017
|
||
|
Fixed Broadband
|
Mobile Broadband
|
Fixed Broadband
|
Mobile Broadband
|
|
-
15 % household ( 1 Mbps)
-
30 % building (100 Mbps)
- 5 % Population
|
12 % Population
(512 Kbps)
|
-
40%-75 % household
( 2 Mbps)
-
50 %-80% building
(1 Gbps)
- 25 % Population
|
75 % Population
(1 Mbps)
|
(Source : Indonesia Broadband Plan 2015-2019)
Sebagai langkah awal, Program Unggulan yang mendorong
pembangunan pita lebar nasional telah ditetapkan. Program Unggulan tersebut dibagi ke
dalam tiga kelompok, yaitu (1) Konektivitas Ekonomi, yang terdiri atas Proyek
Ring Palapa, Pipa Bersama, dan Proyek Percontohan Konektivitas Nirkabel untuk
Pitalebar Perdesaan; (2) Konektivitas Pemerintah dalam bentuk Jaringan dan
Pusat Data Pemerintah Terpadu; dan (3) Pendorong (enabling) yang terdiri atas
Reformasi Dana Kewajiban Pelayanan Universal (Universal Service Obligation)
serta Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Industri TIK Nasional. Untuk pembangunan Proyek
Palapa Ring diharapkan dapat beroperasi secara full pada tahun 2019. Sistem
pembangunan berupa pembangunan serat optik ini membentang ke seluruh indonesia.
Pembagian pengerjaannya dilakukan menjadi tiga bagian, Palapa Ring Paket barat,
Palapa Ring Paket Tengah, dan Palapa Ring Paket Timur. Sampai tahun 2018,
Palapa Ring bagian barat telah selesai dibangun dan telah commercial operation
Data ( COD). Sedangkan untuk Proyek Palapa Ring Timur dan Tengah pengerjaannya
sudah 40 %.Total panjang
jaringan mencapai 8.454 km yaitu 50 persen merupakan kabel fiber optik laut, 45
persen kabel fiber optik darat, dan 5 persen microwave links.
2.1.
Power Line Communication (PLC)
Dr. Paul Brown beserta
tim yang merupakan sekelompok peneliti yang bekerja untuk Norweb pada tahun
1991 mulai melakukan penelitian tentang penggunaan jaringan listrik untuk
transmisi data. Dengan menggunakan sinyal pada frekuensi yang lebih tinggi dari
frekuensi yang berpotensial menghasilkan noise, frekuensi yang
digunakan lebih dari satu frekuensi dan paket data yang dikirim terdiri dari
paket-paket diskrit yang dipandu oleh beberapa bentuk sistem pensinyalan.
Strategi ini berhasil diuji coba dengan baik pada beberapa sekolah di Inggris
dengan menghasilkan kecepatan transfer data yang sepuluh kali lebih cepat dari
sambungan ISDN yang telah ada. Sejak itu teknologi ini terus dikembangkan dan
disempurnakan hingga saat ini. Teknologi ini dikenal dengan sebutan Power
Line Communication.
Power Line Communication disingkat PLC merupakan
teknologi yang menggunakan koneksi kabel listrik yang dapat digunakan pada
jaringan listrik yang
telah ada untuk memberikan pasokan energi listrik, dan di saat yang bersamaan
juga dapat digunakan sebagai media penghantar komunikasi. Aliran listrik dari
kabel listrik dapat digunakan untuk menjadi "carrier" (pembawa) sinyal
informasi dan data. Karena data itu sendiri dapat dikonversi dari format
digital menjadi analog..
Penggunaan komunikasi antar komputer dapat
direalisasikan didalam rumah maupun gedung dalam area jaringan tegangan rendah
dengan menggunakan perangkat tambahan bernama Powerline Ethernet Adapter.
Powerline Ethernet Adapter ini berfungsi untuk mengubah frekuensi arus listrik
yang mengalir dalam kabel listrik sehingga dapat digunakan untuk melakukan
transmisi data digita .Powerline Ethernet Ada Dengan menghubungkan Powerline Ethernet
Adapter dengan stop kontak listrik maka berbagai macam perangkat akan terhubung
satu sama lain.
Penerapan teknologi PLC
untuk kebutuhan yang lebih besar dilakukan dengan cara menghubungkan backbone
internet ke outdoor master. Sebelum
sinyal data di distribusikan ke pengguna outdoor master, terlebih dahulu sinyal
data akan dikirim ke concentration unit dan transformator distribusi listrik
untuk menurunkan tegangan listrik yang tinggi menjadi listrik tegangan rendah.
Sinyal data bertengangan rendah ini akan dikirim ke pengguna PLC dengan
menggunakan kabel listrik. Terkait dengan jarak antara lokasi outdoor master
dengan lokasi pengguna maka diperlukan sebuah repeater yang berfungsi untuk
memperkuat sinyal yang melemah.
Terdapat berbagai
kendala dari saluran transmisi PLC :
a. Noise
Noise pada saluran daya sebagian besar disebabkan oleh
peralatan listrik yang terhubung ke saluran, seperti proses switching penyuplai
daya dimana penggunaan beban listrik berlebihan dapat menimbulkan noise yang
dapat mempengaruhi kestabilan PLC dan menghasilkan banyak error.
b.
Signal Attenuation
The big Attenuation at low voltage network must used
repeater at destance less than 1 km, because the attenuation will make signal
down in certain distance.
c.
Distorsi
Distorsi disebabkan oleh peralatan mesin bor, blender,
microwave, dan juga oleh lampu lampu yang di on/off kan.
d.
Distubansi
Sering terjadi berbagai
macam disturbansi dari jaringan dikarenakan jaringan tegangan rendah tidak dapat
membangun transmisi data dan ada beberapa kerugian untuk pemakaian dalam
telekomunikasi. Karena itu jaringan PLC kelihatan menjadi lebih terganggu dari
pada jaringan komunikasi kawat lainnya.
PLC yang
diproduksi oleh berbagai
perusahaan sistem kontrol
terkemuka saat ini
biasanya mempunyai ciri-ciri
sendiri yang menawarkan
keunggulan sistemnya, baik
dari segi aplikasi
(perangkat tambahan) maupun
modul utama sistemnya. Meskipun demikian pada umumnya setiap PLC (sebagaimana komputer pribadi yang cenderung mengalami standarisasi dan
kompatibel satu sama lain) mengandung
empat bagian berikut :
a. Modul Satu daya
( Power Supply:PS), memberikan tegangann DC ke berbagai modul PLC selain modul
tambahan dengan kemampuan arus sekitar 20 A sampai 50 A.
b. Modul CPU,
terdiri dari 2 bagian yaitu Processor dan memori
c. Modul Perangkat
Lunak.
d. Modul I/O, atau
modul masukan dan keluaran uang bertugas mengatur hubungan PLC dengan piranti
eksternal atau periferal yang bisa berupa suatu komputer host, saklar, dan
sumber sinyal didalam pembangkit
Penggunan secara luas layanan PLC telah dilakukan di
beberapa negara sepeti Jermal, Spanyol, Francis, Inggris, Italia, Portugal, Swiss,
Austria dan Skotlandia. Di Jerman, pengimplementasian terbesar dilakukan oleh
perusahaan bernama Power Plus Communication dimana melayani 9000 pelanggan
rumah tangga di Maahein dengan instalasi listrik terdiri dari 70 % kabel
listrik underground, dan 30 % adalah kabel listrik overhead. Lebih dari 5000
subscriber menikmati layanan internet berkecepaan tinggi dengan memkombinasikan
powerline dengan WLAN sebagai jaringan PLC yang digunakan untuk jaringan besar
dengan pelanggan. Di Asia sendiri beberapa negara tealh melakukan uji coba
teknologi PLC seperti China, Korea, Hongkong, dan Singapura.
Di Indonesia, Uji coba PLC telah dilakukan oleh ICON +
yang berlokasi di Kompleks PLN Duren Tiga, Jakarta selatan pada 20 rumah. Hasilnya
sebenarnya sangat bagus, namun infrastuktur yang dibutuhkan masih sangat mahal.
Hal ini disebabkan karena belum adanya jalur komunikasi yang digunakan ke
network providernya. Artinya, harus terlebih dahulu dipasang fiber optic dari
gardu provider. Jika demikian, maka perhitungan secara cost nya tentu akan
sangat besar dan teknologi yang masih cukup mahal tersebut belum dapat
dinikmati secara umum. Sebagai perbandingan tambahan, Norweb
mengimplementasikan teknologi PLC kepada pelanggan dengan kepadatan 150
pertitik distribusi, namun di Amerika hanya 10 - 12 pertitik. Hal ini
mengakibatkan tidak layak dalam sistem ekonomi.
2.2.
Broadband Over Power Lines (BPL)
Koneksi internet BPL yang menggunakan carrier dengan frekuensi yang rendah pada kabel listrik
bertegangan AC. Untuk
mengakses internet dari soket listrik digunakan sebuah "modem" khusus dimana pada modem ini
berbeda dengan modem
konvensional yang berbasis koneksi telefon (dial-up) atau lainnya. Dianalogikan dalam kabel
listrik yang awalnya hanya membawa arus listrik, dapat disisipkan paket data
bahkan suara dalam gelombang AC dimana dalam satu kabel seolah-olah ada dua kabel yang
berbeda. Dimana satu kabel untuk
pengantar arus listrik dan satu
lagi untuk koneksi internet.
Broadband Over Power Line (BPL) umumnya
merujuk pada sistem PLC yang mendukung kecepatan data lebih dari 1 Mbps. BPL
menggunakan teknologi operasi dengan pita frekuensi sangat tinggi sekitar
1.8-250 MHz dengan bit rate dimulai dari beberapa Mbps sampai ratusan Mbps.
Umumnya, Teknologi BPL beroperasi dibawah frekuensi CENELEC band (European
Committee for Electrotechnical Standardization) sehingga terjadi inconsistent experience dan extremely challenging spectrum
characteristics. Hal ini menyebabkan masalah interferensi elektromagnetik yang
signifikan. Yang paling terlihat adalah adanya gangguan dengan operator radio
dikarenakan terganggunya frekuensi satu sama lain. Berikut adalah
pengkategorian dari PLC berdasarkan Data rate :
|
Type of Powerline
communication
|
Data Rate
|
Grid Segment
|
Modulation
Frequency
|
Vendor Examples
|
|
Low Speed PLC
|
10-100
bps
|
MV and LV Segment
|
50 to
60 Hz
|
Aclara PLC (TWAS)
|
|
Narrow band PLC
|
1-100
Kbps
|
Mostly
LV Only
|
CENELEC A Band
|
Echelon, PRIME,
G3-PLC.
|
|
Broadband Over
Power Line (BPL)
|
1-2
Mbps
|
Mostly
LV Only
|
OFDM at Higher
bands
|
Current Group
Smbient Corp
|
2.1.
Studi Kasus Kelayakan Implementasi
PLC
Kelayakan implementasi
teknologi komunikasi diukur dari kemampuannya untuk menghasilkan arus dana yang
lebih besar dari yang telah diinvestasikan sehingga memberikan tingkat
pengembalian dana yang pantas atau sepadan dengan yang diinginkan
investor.selain itu juga harus menguntungkan dan bermafaat bagi penggunanya.
Kelayakan implementasi PLC di Indonesia harus memenuhi beberapa kriteria
sebagai berikut :
-
Aspek ekonomi dan peluang
pasar : adanya potensi keuntungan yang diperoleh baik oleh owner maupun end
user serta memperhatikan potensi pasar yang besar
-
Aspek regulasi : Jaminan
kekuatan hukum atas penggunaan teknologi
-
Aspek teknis :
Standarisasi teknologi peralatan untuk menjamin interoperability dan
compaibility
Sebuah studi kasus
implementasi PLC dilakukan. Daerah yang dipilih adalah daerah Dayeuh Kolot,
Bandung. Dimana daerah yang dipilih adalah daerah dengan infrastuktur internet
dan telekomunikasi belum banyak tersedia. Terdapat satu gardu induk distribusi
yang melayani 37.865 pelanggan dengan 78 transformator distribusi tegangan
rendah serta kabel listrik tegangan menengah kurang lebih sepanjang 100 km.
Kabel listrik yang menghubungkan transformator distribusi dngan rumah pelanggan
rata rata sepanjang 2,4 km.
Diasumsikan penetrasi
layanan internet dan komunikasi memalui PLC adalah sekitar 2 % dari 37.865
pelanggan, dengan demikian terdapat 760 pelanggan PLC atau sekitar 10 pelanggan
per transformator.
Berdasarkan penelitian
yang dilakukan tersebut dapat disimpulkan bahwa :
1.
Potensi pasar yang sangat besar
dengan jangkauan uang luas, karena pelanggan PLC berasal dari pelanggan listrik
dimana setiap tahun jumlah pelanggan listrik di Indonesia akan meningkat
pertahunnya.
2.
Berdasarkan segi biaya setelah menghitung capital expanditure dan
operational expanditure per pelanggan, biaya akses telekomunikasi dan internet
masih sangat mahal jika dibandingkan dengan broadband lain.
Saat ini interfensi menjadi masalah utama, dimana radiasi gelombang
elektromagnetik yang diakibatkan oleh sistem access PLC masih melebihi batas
radiasi yang ditetapkan pada FCC part 15.209 dimana batas radiasi untuk sistem
access PLC yang bekerja pada band frekuensi 1,7 hingga 30 MHz melalui jaringan
listrik tengangan menengah lebih besar
dari standar maksimum yaitu 30 uV/m. Namun masalah interfensi masih bisa
diatasi melalui pengaturan alokasi frekuensi dan secata teknik yaitu dengan
menggunakan kabel listrik bawah tanah seta jaringan wireless sebagai backhaul3.1 Conclusion
Berdasarkan analisis, dapat
ditarik kesimpulan dari penerapan Broadband Power Line (BPL) pada teknologi
Power Line Connection (PLC) mempunyai potensi pasar yang sangat besar dan
sangat memungkinkan untuk diterapkan di Indonesia. Namun terdapat banyak
pertimbangan jika dilakukan penerapannya dimasa sekarang ini, adapun
pertimbangan tersebut adalah :
a.
Pemasangan Teknologi PLC
secara massal membutuhkan biaya yang sangat besar, hal itu diperhitungkan mulai
dari pengadaan peralatan, pembangunan kabel serap optik, pengintegrasian dan
pertimbangan lain yang jika dijumlahkan akan sangat besar.
b.
Permasalahan radiasi
gelombang elektromagnetik yang dihasilkan dari teknologi PLC tentu saja sangat
membahayakan. Salah satu jalan keluar untuk masalah ini adalah melalui alokasi
frekuensi secara teknik yaitu dengan menggunakan kabel bawah tanah ataupun
jaringan wireless
c.
Bercermin dari negara
lain, di Eropa, teknologi PLC yang diimplementasikan oleh perusahan Norweb
berada dengan kepadatan 150 per titik distribus, sedangkan jika kepadatan
penduduk rendah maka mengakibatkan tidak layak dari segi ekonomi.
d.
Jika Implementasikan,
dikhawatirkan akan terjadi persaingan dengam Perusahaan Telkom sebagai penyedia
layanan komunikasi yang telah ada. Jika menerapkan teknologi PLC dengan segala
kemudahan yang ditawarkan maka tidak menutup kemungkinan layanan komunikasi
komersial masa kini akan ditinggalkan.
3.2
Suggestion
Untuk pengimplementasian Teknologi PLC di Indonesia dapat
dilakukan pertimbangan secara menyeluruh dengan semua aspek sesuai dengan
kesimpulan yang telah dibuat.
Komentar
Posting Komentar