Pengaplikasian Teknologi BroadBand Over Powerlines


Pengaplikasian Teknologi BroadBand Over Powerlines


Oleh : Andi Nikma Sri Handayani

1.1.  Latar Belakang


Komunikasi data merupakan proses pengiriman informasi di antara dua titik menggunakan kode biner melewati saluran transmisi dan peralatan switching, bisa antara komputer dan komputer, komputer dengan terminal, atau komputer dengan peralatan, atau peralatan dengan peralatan. Perkembangan teknologi jaringan komputer saat ini memungkinkan pengiriman data tidak hanya menggunakan kabel ethernet (UTP) maupun media nirkabel (wireless) sebagai media transmisinya, melainkan sebuah kabel listrik yang fungsi utamanya untuk menyalurkan tegangan listrik ke berbagai rumah sebagai sarana menghidupkan peralatan elektronik, namun dapat dialih fungsikan sebagai media transmisi untuk komunikasi data dalam jaringan komputer dengan memanfaatkan saluran tegangan listrik yang ada pada kabel listrik.
PT.PLN (Persero) sebagai perusahaan penyedia layanan listrik dapat menawarkan suatu inovasi baru dimana tidak hanya menawarkan listrik bagi pelanggan tetapi juga menjadi  penyediaan layanan komunikasi data. Di era ini hal tersebut tidak lagi menjadi hal yang mustahil. Dengan penerapan teknologi Power Line Connection (PLC) memungkinkan pengiriman data dengan menggunakan kabel listrik sebagai media pengantar komunikasi. Dengan  memanfaatkan saluran tegangan listrik maka pengiriman data  dapat dilakukan  tanpa membangun instalasi jaringan lagi dan dapat menekan biaya menjadi lebih murah. Jika pengimpelementasian teknologi PLC dilakukan hal yang sangat perlu diperhatikan adalah kecepatan dalam proses pengiriman dan penerimaan data dengan jangkauan frekuesi yang luas dalam hal jaringan komputer dan koneksi internet.
Pengertian Broadband dalam arti harfiah sendiri dapat definisikan sebagai jangkauan frekuensi yang luas dan digunakan untuk melakukan proses pengiriman dan menerima data. Istilah broadband mengacu pada koneksi bandwidth  internet. Istilah bandwidth umumnya digunakan untuk merujuk pada kecepatan transfer data, dalam hal jaringan komputer dan koneksi internet. Karena pentingnya internet, maka pemerintah memasukan agenda pembangunan jaringan broadband diIndonesia pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2014-2019.
Teknologi broadband internet melalui jaringan telepon menawarkan data rate yang tinggi, hanya saja pada keadaan normal, cakupan daerah maksimal mencapai 5,5 km dengan catatan masih ada daerah yang belum bisa dijangkau.  Salah satu teknologi yang menjanjikan yaitu teknologi Broadband over poweline (BPL) dimana teknologi ini menawarkan akses broadband dengan melalui jaringan listrik dimana selain menawarkan laju data tingi dengan jangkauan yang lebih luas dibandingkan dengan teknologi DSL pada telepon, ditambah dengan tersedianya kabel listrik dimana-mana sebagai media pengiriman jaringan internet. Lantas bagaimanakan pengimplementasian dan penerapan teknologi ini? Hal tersebut akan dibahas pada paper ini .

1.1. Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan paper adalah memberikan penjelasan tentang jaringan komunikasi data Broad band dan penerapannya dalam teknologi Power Line Communication (PLC) serta bagaimana pengimplementasiaannya dalam kehidupan sehari-hari.

1.2. Ruang Lingkup

Ruang lingkup dari pembuatan paper ini adalah objek yang dijadikan sebagai bahan pembahasan adalah broadband yang mana lebih menitikberatkan pada penggunaannya didalam teknologi Power Line Communication.

2.1.    What is Broad Band ?

2.1.1. Definition of Broad Band
Definition of Broad band according to several sources :
a.      According to Wikipedia, Broad band adalah merupakan suatu istilah didalam internet yang merupakan koneksi internet transmisi data berkecepatan tinggi. Terdapat 2 jenis Broad band yang umum, yakni Digital Subsciber Line (DSL) dan kabel modem yang mampu mentransfer 512 kbsp atau lebih ( 9 kali lebih cepat dari modem yang menggunakan kabel telepon standar )
b.      According to recomendation of ITU No. I.113, Communication broad band is communication with transmition speed is 1,5 Mbps until 2,0 Mbps.
c.      According to the FCC in America, Broadband communication is a communication  that has a speed of symmetry ( up-stream and down-stream) minumum 200 kbps
Pengertian Broadband dalam arti harfiah sendiri dapat definisikan sebagai jangkauan frekuensi yang luas dan digunakan untuk melakukan proses pengiriman dan menerima data. Istilah broadband mengacu pada koneksi bandwidth  internet. Istilah bandwidth umumnya digunakan untuk merujuk pada kecepatan transfer data, dalam hal jaringan komputer dan koneksi internet.
2.1.2. Technology of Broad Band

a.    Digital Subscirbe Line (DSL) merupakan kumpulan teknologi yang memanfaatkan bandwidth yang tidak digunakan telepon tembaga biasa untuk menghantarkan data digital berkecepatan tinggi. DSL biasanya menggunakan sinyal frekuensi dengan range cukup tinggi, yaitu 1 MHz. Pada keadaan normal, teknologi DSL memiliki cakupan area coverage maksimal sebesar 5,5 km.
b.    Cable Technology, memanfaatkan infrastuktur kabel tv untuk melewatkan data (beberapa negara juga melewatkan sinyal telepon). Teknologi cable sendiri memungkinkan pengguna melakukan koneksi VPN dengan kecepatan tinggi dan harga yang sesuai. Dalam pemasangan cable jarak jauh, digunakan amplifier atau penguat sinyal untuk tetap menjaga keutuhan sinyal selama di perjalanan. Amplifier akan dipasang pada bentangan kabel coaxial kurang lebih setiap jarak 610 meter. Sinyal yang dikuatkan adalah sinyal frekuensi 50 sampai 860 MHz. Namun saat ini arsitektur jaringan Cable tidak lagi dibuat menggunakan murni media Coaxial, namun dibuat juga menggunakan bentangan media fiber optik. Media fiber optik digunakan dengan tujuan untuk akan meniadakan amplifier sinyal, membawa siyal dengan lebih bersih, kecepatan transfer yang lebih tinggi dan dengan jarak yang lebih jauh dibandingkan kabel coaxial biasa. Media fiber optik bertugas sebagai backbone link.
c.     Wireless Broadband, Sistem broadband ini kepada teknologi nirkabel dengan kecepatan proses download yang disediakan adalah jenis akses teknologi yang berkisar antara 128 kbps – 2Mbps. Teknologi ini menjadi sangat berkembang karena banyaknya perangkat nirkabel seperti ponsel dan laptop.
d.    Satelit Broadband, Satelit geostasioner menyediakan akses internet yang menggunakan parabola dan perangkat keras pendukung lainnya untuk menerima sinyal. Kecepatan yang ditawarkan oleh koneksi ini adalah sekitar 2 Mbps untuk dowload dan 1 Mbps untuk upload. Jenis Broadband ini merupakan jalan keluar untuk wilayah dengan keterbatasan jangkauan secara geografis. Namun, untuk koneksi broad band satelit ini dipengaruhi oleh faktor cuaca.

2.1.3. Kelebihan dan Kekurangan Broad Band

-       Kelebihan Broadband :
a.    Broadband tidak seperti dial-up yang tidak menuntut untuk berlangganan.
b.    Dengan Broadband, memungkinkan untuk melakukan panggilan suara ketika sedang melakukan surfing di internet dikarenakan penggunaan frekuensi yang berbeda
c.     Bandwith yang lebih besar membuat konektifitas lebih stabil
d.    Kecepatan download yang tergolong cepat jika dibandingkan dengan Dial-Up sehingga dapat di share ke beberapa computer di rumah, baik dengan LAN maupun dapat membuat access point (wi-fi)

-       Kekurangan Broadband yakni
a.    kecepatan koneksi bergantung kepada banyak pengguna
b.    Semakin jauh  jarak antar penerima dengan router maka sinyal yang diterima akan semakin lemah
c.     Kerusakan pada backbone atau jalur utama jaringan, akan membuat jaringan DSL menjadi terganggu.

2.2.       Implementation of Broad band in Indonesia

Broadband dalam Rencana Pita lebar Indonesia 2014-2019 didefinisikan sebagai akses internet dengan jaminan konektivitas selalu tersambung, terjamin ketahanan dan keamanan informasinya serta memiliki kemampuan triple-play dengan kecepatan minimal 2 Mbps untuk akses tetap (fixed) dan 1 Mbps untuk akses bergerak (mobile). Pengimplementasian Broad band di Indonesia telah masuk dalam agenda Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) untuk tahun kerja 2014-2019.  Berdasarkan agenda rapat RPJMN Broadband memungkinkan pengaksesan, petukaran dan kolaborasi riset secara lebih cepat dimana berdasarkan sumber daya manusia untuk bagian daya saing ekonomi, penggunaan Broad band dapat memperluas dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan kesehatan.
            Sebagai langkah awal dari pengimplementasian Broad band, pemerintah berkolaborasi dengan dunia usaha untuk menyusun Indonesia Broadband Plant (IBP). IBP bertujuan untuk memberikan arahan dan panduan bagi percepatan perluasan pembangunan broadband nasional yang komprehensif dan terintegrasi dengan menggunakan sumber daya secara efesien. Kebijakan utama pembangunan Broadband nasional dibagi menjadi empat aspek :
a.       Infrastructure, Percepatan pembangunan dan pemerataan infrastucture broadband untuk memastikan ketersediaan, aksesibillty, dan jangkauan layanan dengan berorientasi locally integrated, globally connected
b.       Pemanfaatan, Perluasan adopsi dan peningkatan kualitas utilisasi broadband baik di sektor pemerintahan, ekonomi, pertahanan dan keamanan, maupun budaya
c.        Kerangka regulasi, Regulasi (Sektor dan lintas sektor) yang memfasilitasi pengembangan pasar dan menekan regulatory cost sehingga memungkinkan dunia usaha untuk menjadi aktor utama dalam pengembangan broadband nasional
d.       Pendanaan, Pendanaan pemerintah digunakan untuk akselarasi, fungsi fill in the gap, dan debottlenecking pembangunan broadband tanpa mengambil alih peran atau berkompetisi dalam penyelenggaraan.


2013
2017
Fixed Broadband
Mobile Broadband
Fixed Broadband
Mobile Broadband
-   15 % household ( 1 Mbps)
-   30 % building (100 Mbps)
-  5 % Population
12 % Population
(512 Kbps)
-   40%-75 % household
( 2 Mbps)
-   50 %-80% building
(1 Gbps)
-  25 % Population
75 % Population
(1 Mbps)
(Source : Indonesia Broadband Plan 2015-2019)
             Sebagai langkah awal, Program Unggulan yang mendorong pembangunan pita lebar nasional telah ditetapkan. Program Unggulan tersebut dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu (1) Konektivitas Ekonomi, yang terdiri atas Proyek Ring Palapa, Pipa Bersama, dan Proyek Percontohan Konektivitas Nirkabel untuk Pitalebar Perdesaan; (2) Konektivitas Pemerintah dalam bentuk Jaringan dan Pusat Data Pemerintah Terpadu; dan (3) Pendorong (enabling) yang terdiri atas Reformasi Dana Kewajiban Pelayanan Universal (Universal Service Obligation) serta Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Industri TIK Nasional. Untuk pembangunan Proyek Palapa Ring diharapkan dapat beroperasi secara full pada tahun 2019. Sistem pembangunan berupa pembangunan serat optik ini membentang ke seluruh indonesia. Pembagian pengerjaannya dilakukan menjadi tiga bagian, Palapa Ring Paket barat, Palapa Ring Paket Tengah, dan Palapa Ring Paket Timur. Sampai tahun 2018, Palapa Ring bagian barat telah selesai dibangun dan telah commercial operation Data ( COD). Sedangkan untuk Proyek Palapa Ring Timur dan Tengah pengerjaannya sudah 40 %.Total panjang jaringan mencapai 8.454 km yaitu 50 persen merupakan kabel fiber optik laut, 45 persen kabel fiber optik darat, dan 5 persen microwave links. 


2.1.             Power Line Communication (PLC)

Dr. Paul Brown beserta tim yang merupakan sekelompok peneliti yang bekerja untuk Norweb pada tahun 1991 mulai melakukan penelitian tentang penggunaan jaringan listrik untuk transmisi data. Dengan menggunakan sinyal pada frekuensi yang lebih tinggi dari frekuensi yang berpotensial menghasilkan noise, frekuensi yang digunakan lebih dari satu frekuensi dan paket data yang dikirim terdiri dari paket-paket diskrit yang dipandu oleh beberapa bentuk sistem pensinyalan. Strategi ini berhasil diuji coba dengan baik pada beberapa sekolah di Inggris dengan menghasilkan kecepatan transfer data yang sepuluh kali lebih cepat dari sambungan ISDN yang telah ada. Sejak itu teknologi ini terus dikembangkan dan disempurnakan hingga saat ini. Teknologi ini dikenal dengan sebutan Power Line Communication.
Power Line Communication disingkat PLC merupakan teknologi yang menggunakan koneksi kabel listrik yang dapat digunakan pada jaringan listrik yang telah ada untuk memberikan pasokan energi listrik, dan di saat yang bersamaan juga dapat digunakan sebagai media penghantar komunikasi. Aliran listrik dari kabel listrik dapat digunakan untuk menjadi "carrier" (pembawa) sinyal informasi dan data. Karena data itu sendiri dapat dikonversi dari format digital menjadi analog..   
Penggunaan komunikasi antar komputer dapat direalisasikan didalam rumah maupun gedung dalam area jaringan tegangan rendah dengan menggunakan perangkat tambahan bernama Powerline Ethernet Adapter. Powerline Ethernet Adapter ini berfungsi untuk mengubah frekuensi arus listrik yang mengalir dalam kabel listrik sehingga dapat digunakan untuk melakukan transmisi data digita .Powerline Ethernet Ada Dengan menghubungkan Powerline Ethernet Adapter dengan stop kontak listrik maka berbagai macam perangkat akan terhubung satu sama lain.
Penerapan teknologi PLC untuk kebutuhan yang lebih besar dilakukan dengan cara menghubungkan backbone internet ke outdoor master.  Sebelum sinyal data di distribusikan ke pengguna outdoor master, terlebih dahulu sinyal data akan dikirim ke concentration unit dan transformator distribusi listrik untuk menurunkan tegangan listrik yang tinggi menjadi listrik tegangan rendah. Sinyal data bertengangan rendah ini akan dikirim ke pengguna PLC dengan menggunakan kabel listrik. Terkait dengan jarak antara lokasi outdoor master dengan lokasi pengguna maka diperlukan sebuah repeater yang berfungsi untuk memperkuat sinyal yang melemah. 
Terdapat berbagai kendala dari saluran transmisi PLC :
a.    Noise
Noise pada saluran daya sebagian besar disebabkan oleh peralatan listrik yang terhubung ke saluran, seperti proses switching penyuplai daya dimana penggunaan beban listrik berlebihan dapat menimbulkan noise yang dapat mempengaruhi kestabilan PLC dan menghasilkan banyak error.
b.    Signal Attenuation
The big Attenuation at low voltage network must used repeater at destance less than 1 km, because the attenuation will make signal down in certain distance.
c.     Distorsi
Distorsi disebabkan oleh peralatan mesin bor, blender, microwave, dan juga oleh lampu lampu yang di on/off kan.
d.    Distubansi
Sering terjadi berbagai macam disturbansi dari jaringan  dikarenakan jaringan tegangan rendah tidak dapat membangun transmisi data dan ada beberapa kerugian untuk pemakaian dalam telekomunikasi. Karena itu jaringan PLC kelihatan menjadi lebih terganggu dari pada jaringan komunikasi kawat lainnya.
PLC   yang   diproduksi   oleh   berbagai   perusahaan   sistem   kontrol  terkemuka  saat  ini  biasanya  mempunyai  ciri-ciri  sendiri  yang  menawarkan  keunggulan  sistemnya,  baik  dari  segi  aplikasi  (perangkat  tambahan)  maupun  modul utama sistemnya. Meskipun demikian pada umumnya setiap  PLC (sebagaimana   komputer pribadi   yang cenderung mengalami standarisasi dan kompatibel satu sama   lain) mengandung empat bagian berikut :
a.    Modul Satu daya ( Power Supply:PS), memberikan tegangann DC ke berbagai modul PLC selain modul tambahan dengan kemampuan arus sekitar 20 A sampai 50 A.
b.    Modul CPU, terdiri dari 2 bagian yaitu Processor dan memori
c.     Modul Perangkat Lunak.
d.    Modul I/O, atau modul masukan dan keluaran uang bertugas mengatur hubungan PLC dengan piranti eksternal atau periferal yang bisa berupa suatu komputer host, saklar, dan sumber sinyal didalam pembangkit

Penggunan secara luas layanan PLC telah dilakukan di beberapa negara sepeti Jermal, Spanyol, Francis, Inggris, Italia, Portugal, Swiss, Austria dan Skotlandia. Di Jerman, pengimplementasian terbesar dilakukan oleh perusahaan bernama Power Plus Communication dimana melayani 9000 pelanggan rumah tangga di Maahein dengan instalasi listrik terdiri dari 70 % kabel listrik underground, dan 30 % adalah kabel listrik overhead. Lebih dari 5000 subscriber menikmati layanan internet berkecepaan tinggi dengan memkombinasikan powerline dengan WLAN sebagai jaringan PLC yang digunakan untuk jaringan besar dengan pelanggan. Di Asia sendiri beberapa negara tealh melakukan uji coba teknologi PLC seperti China, Korea, Hongkong, dan Singapura.
Di Indonesia, Uji coba PLC telah dilakukan oleh ICON + yang berlokasi di Kompleks PLN Duren Tiga, Jakarta selatan pada 20 rumah. Hasilnya sebenarnya sangat bagus, namun infrastuktur yang dibutuhkan masih sangat mahal. Hal ini disebabkan karena belum adanya jalur komunikasi yang digunakan ke network providernya. Artinya, harus terlebih dahulu dipasang fiber optic dari gardu provider. Jika demikian, maka perhitungan secara cost nya tentu akan sangat besar dan teknologi yang masih cukup mahal tersebut belum dapat dinikmati secara umum. Sebagai perbandingan tambahan, Norweb mengimplementasikan teknologi PLC kepada pelanggan dengan kepadatan 150 pertitik distribusi, namun di Amerika hanya 10 - 12 pertitik. Hal ini mengakibatkan tidak layak dalam sistem ekonomi.
           

2.2.        Broadband Over Power Lines (BPL)

Koneksi internet BPL yang menggunakan carrier dengan frekuensi yang rendah pada kabel listrik bertegangan AC. Untuk mengakses internet dari soket listrik digunakan sebuah "modem" khusus dimana pada modem ini berbeda dengan modem konvensional yang berbasis koneksi telefon (dial-up) atau lainnya. Dianalogikan dalam kabel listrik yang awalnya hanya membawa arus listrik, dapat disisipkan paket data bahkan suara dalam gelombang AC dimana dalam satu kabel seolah-olah ada dua kabel yang berbeda. Dimana satu kabel untuk pengantar arus listrik dan satu lagi untuk koneksi internet.
Broadband Over Power Line (BPL) umumnya merujuk pada sistem PLC yang mendukung kecepatan data lebih dari 1 Mbps. BPL menggunakan teknologi operasi dengan pita frekuensi sangat tinggi sekitar 1.8-250 MHz dengan bit rate dimulai dari beberapa Mbps sampai ratusan Mbps. Umumnya, Teknologi BPL beroperasi dibawah frekuensi CENELEC  band (European Committee for Electrotechnical Standardization) sehingga terjadi inconsistent experience dan extremely challenging spectrum characteristics. Hal ini menyebabkan masalah interferensi elektromagnetik yang signifikan. Yang paling terlihat adalah adanya gangguan dengan operator radio dikarenakan terganggunya frekuensi satu sama lain. Berikut adalah pengkategorian dari PLC berdasarkan Data rate :


Type of Powerline communication
Data Rate
Grid Segment
Modulation Frequency
Vendor Examples
Low Speed PLC
10-100 bps
MV and LV Segment
50 to 60 Hz
Aclara PLC (TWAS)
Narrow band PLC
1-100 Kbps
Mostly LV Only
CENELEC A Band
Echelon, PRIME, G3-PLC.
Broadband Over Power Line (BPL)
1-2 Mbps
Mostly LV Only
OFDM at Higher bands
Current Group Smbient Corp

2.1.            Studi Kasus Kelayakan Implementasi PLC

Kelayakan implementasi teknologi komunikasi diukur dari kemampuannya untuk menghasilkan arus dana yang lebih besar dari yang telah diinvestasikan sehingga memberikan tingkat pengembalian dana yang pantas atau sepadan dengan yang diinginkan investor.selain itu juga harus menguntungkan dan bermafaat bagi penggunanya. Kelayakan implementasi PLC di Indonesia harus memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut :
-          Aspek ekonomi dan peluang pasar : adanya potensi keuntungan yang diperoleh baik oleh owner maupun end user serta memperhatikan potensi pasar yang besar
-          Aspek regulasi : Jaminan kekuatan hukum atas penggunaan teknologi
-          Aspek teknis : Standarisasi teknologi peralatan untuk menjamin interoperability dan compaibility
Sebuah studi kasus implementasi PLC dilakukan. Daerah yang dipilih adalah daerah Dayeuh Kolot, Bandung. Dimana daerah yang dipilih adalah daerah dengan infrastuktur internet dan telekomunikasi belum banyak tersedia. Terdapat satu gardu induk distribusi yang melayani 37.865 pelanggan dengan 78 transformator distribusi tegangan rendah serta kabel listrik tegangan menengah kurang lebih sepanjang 100 km. Kabel listrik yang menghubungkan transformator distribusi dngan rumah pelanggan rata rata sepanjang 2,4 km.
Diasumsikan penetrasi layanan internet dan komunikasi memalui PLC adalah sekitar 2 % dari 37.865 pelanggan, dengan demikian terdapat 760 pelanggan PLC atau sekitar 10 pelanggan per transformator.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan tersebut dapat disimpulkan bahwa :
1.     Potensi pasar  yang sangat besar dengan jangkauan uang luas, karena pelanggan PLC berasal dari pelanggan listrik dimana setiap tahun jumlah pelanggan listrik di Indonesia akan meningkat pertahunnya.
2.     Berdasarkan segi biaya setelah menghitung capital expanditure dan operational expanditure per pelanggan, biaya akses telekomunikasi dan internet masih sangat mahal jika dibandingkan dengan broadband lain.
Saat ini interfensi menjadi masalah utama, dimana radiasi gelombang elektromagnetik yang diakibatkan oleh sistem access PLC masih melebihi batas radiasi yang ditetapkan pada FCC part 15.209 dimana batas radiasi untuk sistem access PLC yang bekerja pada band frekuensi 1,7 hingga 30 MHz melalui jaringan listrik tengangan menengah lebih besar  dari standar maksimum yaitu 30 uV/m. Namun masalah interfensi masih bisa diatasi melalui pengaturan alokasi frekuensi dan secata teknik yaitu dengan menggunakan kabel listrik bawah tanah seta jaringan wireless sebagai backhaul


3.1          Conclusion

Berdasarkan analisis, dapat ditarik kesimpulan dari penerapan Broadband Power Line (BPL) pada teknologi Power Line Connection (PLC) mempunyai potensi pasar yang sangat besar dan sangat memungkinkan untuk diterapkan di Indonesia. Namun terdapat banyak pertimbangan jika dilakukan penerapannya dimasa sekarang ini, adapun pertimbangan tersebut adalah :
a.    Pemasangan Teknologi PLC secara massal membutuhkan biaya yang sangat besar, hal itu diperhitungkan mulai dari pengadaan peralatan, pembangunan kabel serap optik, pengintegrasian dan pertimbangan lain yang jika dijumlahkan akan sangat besar.
b.    Permasalahan radiasi gelombang elektromagnetik yang dihasilkan dari teknologi PLC tentu saja sangat membahayakan. Salah satu jalan keluar untuk masalah ini adalah melalui alokasi frekuensi secara teknik yaitu dengan menggunakan kabel bawah tanah ataupun jaringan wireless
c.     Bercermin dari negara lain, di Eropa, teknologi PLC yang diimplementasikan oleh perusahan Norweb berada dengan kepadatan 150 per titik distribus, sedangkan jika kepadatan penduduk rendah maka mengakibatkan tidak layak dari segi ekonomi.
d.    Jika Implementasikan, dikhawatirkan akan terjadi persaingan dengam Perusahaan Telkom sebagai penyedia layanan komunikasi yang telah ada. Jika menerapkan teknologi PLC dengan segala kemudahan yang ditawarkan maka tidak menutup kemungkinan layanan komunikasi komersial masa kini akan ditinggalkan.

3.2        Suggestion

Untuk pengimplementasian Teknologi PLC di Indonesia dapat dilakukan pertimbangan secara menyeluruh dengan semua aspek sesuai dengan kesimpulan yang telah dibuat.

Komentar